"Prabowo Naik Kuda Apa Keledai?" by Eka Gumilar


Oleh: Eka Gumilar

Judul diatas hanya untuk mengingatkan kita, bahwa kedaraan koalisi yg dipakai pak Prabowo  Pilpres sekuat kuda atau keledai? 

Sy akan coba membagi pemikiran saya, bebas tanpa intervensi dan terkait dg siapapun

1.Kita harus berani jujur berbicara, melepaskan semua hal yg mengikat kita, agar kita memiliki objektifitas dalam menyampaikan pendapat diruang Publik

2.Hal yg hangat kita bahas adalah pasca pemilu yg berlangsung 17 April 2019 kemarin, baik Pilpres maupun Pileg

3.Saya berbicara sebagai Pribadi,bukan sebagai kader Gerindra maupun BPN agar tidak dikait kaitkan dg kebijakan partai/BPN

4.Pendapat saya, ketika kita kalah/dikalahkan dalam sebuah perlombaan, apakah itu karna kecurangan atau murni karna kita memang kalah,tapi tetap saja menyakitkan semua pendukung

5.Saya pribadipun,sebagai caleg DPR ri dipalil Jabar V, walau merasa Turun ke masyarakat, bahkan menginap ditokoh2, sosialisasi, menyebar atribut, diduking para tokoh Nasional dll... Tp kenyataannya suara hancur,sy akui saya kalah.
Kalah antisipasi curang kalah antisipasi, kalah uang dll

6.Prediksi publik, dimana sy bisa masuk di 3 besar, jauh dari kenyataan.Beragam alasan bisa sy sampaikan : pencurian suara partai, penguasaan saksi oleh caleg struktural, money politik dll tapi harus gentle sy akui sy kalah


7.Terkait Pilpres,publik menilai pak Prabowo diprediksikan menang karna setiap kunjungan Prabowo Sandi selalu dipenuhi Rakyat pendukung.inilah tanda tanda kemenangan
Namun, kita harusnya mampu mengawal potensi menjadi kemenangan nyata

8.Kita sudah merasakan kekalahan di 2014,dan itu menyakiti hati pendukung.Dugaan waktu itupun adalah adanya kemungkinan kecurangan.

Tentu harusnya kita belajar mempersiapkan pemilu 2019 lebih baik

9.Waktu saya diminta menjadi moderator diskusi potensi kecurangan di BPN, ada hal yg kita ingatkan :
1.penyiapan saksi
2.pemantauan perusahan pemenang tender kertas suara
3.pengawasan ppk
4.antisipasi quick count
5.antisipasi pengerahan asn
6.awasi daerah 3T teringgal, terjauh terpencil

10.Namun,kita kecewa saat mengetahui saksi Capres banyak kosong di TPS2  bahkan ada yg kecamatan saja kosong.
Kenapa... Koq bisa? 
Sementara organ relawan sangat banyak

11.Saya tidak terlalu kaget ketika melihat hasil quick count yg menggambarkan Jokowi menang dan pak Prabowo kalah, krn lembaga lembaga survey sejak  awal diprediksi kita sudah ada keberpihakan ke petahana
Lalu antisipasinya apa

12.Justru yg saya kaget, ketika tau bahwa banyak saksi Prabowo yg kosong di TPS, bahkan ada kecamatan yg saksi Prabowo tidak ada

13.Lah..bukannya yg siap menjadi saksi banyak, bahkan banyak relawan yg siap bikin tenda segala di TPS? 
Faktanya : Memperihatinkan

14.kita kecewa, dan saya yakin jutaan relawan dan pendukung pak Prabowo juga kecewa dengan hasil sementara yg ada

15.Banyak yg total jadi relawan untuk mensuksekan pilpres. 
Sy pribadi, mundur dari semua pekerjaan sy, untuk fokus di pileg dan pilpres,8 bulan sy lalui perjuangan walau tertatih,dengan kawan kawan, tapi menuai kekecewaan

16.Kita memang belum mendengar hasil resmi KPU, tapi harusnya kita dapat mengantisipasi hal yg terburuk, tidak mabuk dengan keyakinan menang,akhirnya lengah dengan hal yg sudah diprediksikan.

17.Dalam hukum perang, rumusnya hanya satu : gimana menang. Walaupun kita tdk sependapat dg istilah "lebih baik menang curang daripada kalah terhormat"
Tapi faktanya jika kalah menyakitkan,dan banyak korban.

Minimal kita antisipasi maximal dilapangan

18.Didalam internal partai partai kita sediri mari kt periksa bau anyir saling sikut dan terindikasi halalkan segala cara untuk menang,gak peduli saudara separtai.
Kebijakan struktural partai kadang mengabaikam caleg yg nonstruktural

19.Kita diramaikan dengan wacana  people power,dorongan Rakyat/relawan yg tidak menerima potensi kecurangan.
Walau berganti nama dengan kedaulatan rakyat dll, tp siapa yg menjamin dari potensi caos? 

Rakyat dan umat selalu jadi suluh,yg terbakar dan semangatnya untuk perjuangan, tapi kita sebagai motor penggerak lalai menjaga kepercayaannya.
Mereka datang pasti dg biaya, dan pengorbanan

20.Lihatlah banyak tokoh, relawan yg menjadi korban,ditangkap dan dipenjarakan, krn dianggap melawan aturan,padahal mungkin karna semangat berlebihan.
Kita hanya bisa mendoakan, dan ikut prihatin, sementara penjara u mereka itu nyata didepan mata. 

21.Perjuangan memang perlu pengorbanan. sepakat.... Tapi juga perlu kecerdikan, dan antisipasi yg kuat,agar tidak banyak korban

22.Kita,yg ada di BPN yg harusnya pertama kali mengakui salah. 
Euporia kemenangan membius kita memjadi lalai mempersiapkan semua dg lebih baik

23.Terlebih sy pribadi prihatin jika memperhatikan  ada sebagian org yg seolah  sangay sibuk, sudah membuat jarak, sulit dihubungi atau dikordinasi, terlalu yajin menang dan beemimpi posisi menteri sudah ditangan

24.Prabowo Sandi boleh mendapat dukungan mayoritas rakyat, tapi bagimnapun jika suaranya tidak terjaga, menguap, tetap saja kalah kawan.
Bagaimana kita menjaga NKRI klw jaga suara kita saja kita lemah? 

25.Banyak "penjilat" yg berkeliaran diseputar Prabowo Sandi yg selalu memgatakan semua Ok, exelent, dan ketika kita memberi masukan lain, mereka abaikan, seolah kita pesimis,dan dianggap bukan siapa siapa
Ekslusif.... Belum menang padahal. 


26.26.perjuangan konstitusional kt utamakan,karna perjuangan melibatkan massa jml bsr turun kejalan bs mengancam disintergasi Bangsa,terlalu mahal harga yg harus kita bayar kawan.

Jgn kt korbankan hal yg lebih besar: NKRI

Kita berselisih dg saudara kita sendiri bukan?

27.Jangan kaitkan pendapat sy dengan kekecewaan saya dipileg, sejak penetapan pleno2,sy tetap semangat berjuang mengawal suara prabowo.
Tapi sy  ingin berpendapat  bebas merdeka,tanpa tersandera kepentingan apapun.

28.Belajar dari berbagai negara yg mengalami perang saudara, tidak bisa selesai dalam waktu singkat.
Kasian Rakyat.... Yg semangat, tapi belum paham akibat

29.Jika kitatetap menolak hasil pemilu (Seperti pidato pak Prabowo) apakah koalisi siap menolak juga hasil pileg? Jika tidak maaf... Kita tidak gentle, dan terkesan egois.
Kalau berani :
TOLAK HASIL PEMILU PILPRES MAUPUN PILEG 

Karna satu rangkaian yg tdk terpisahkan. 

30.Atas tukisan ini saya siap menerima resiko apapun, tapi saya sudah lega menyampaikan pendapat jujur dari pikiran dan hati saya, mhn maaf jika tidak berkenan

31.Pak Prabowo adalah sosok yg saya kagumi, saya hormati, tapi sayang sekali jika kita mengulangi hal yg salah berulang. Dan semua selalu bilang ok didepan beliau

Seharusnya kita sekuat kuda, jangan menjadi seekor keledai, yg bisa jatuh kelobang yg sama

32.Mari perjuangkan apa yg menjadi hak, tapi harus ada keberanian juga mengakui kelemahan dan berintrospeksi, agar kita bisa menilai dengan objektif.

Jangan sampai negara kita korbankan, sementara kita membutakan diri pada kelemahan sendiri

Memang menjadi jujur itu sulit,banyak lebih memilih menjadi pribadi lain diruang publik karna tidak berani berpikir independen

Sedikit beda pendapat, adalah lawan....?Tidak

Sebelum belajar memerdekakan orang, kita sendiri harus merdeka lahir batin

Saya saudaramu....😊 (*)

- dari twitter @ekagumilars, 17 Mei 2019

Belum ada Komentar untuk ""Prabowo Naik Kuda Apa Keledai?" by Eka Gumilar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...